Judul buku: Negeri 5 Menara
Pengarang: A. Fuadi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku: 418 halaman
Cetakan: Pertama, Juli 2009
Man jadda wa jadda. Siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses. Inilah hikmah pertama yang dapat kita tangkap saat membaca novel Negeri 5 Menara. Hikmah yang juga diterima oleh pengarangnya, A. Fuadi, saat belajar di Pesantren Gontor, dan menjadi semacam doktrin yang harus diamalkan oleh para santri Pesantren Madani yang begitu ajaib dalam novel ini.
Ada dalam satu mainstream dengan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata sebagai novel pendidikan, novel Negeri 5 Menara juga mengangkat romantika kehidupan siswa (santri) di sebuah lembaga pendidikan yang terpencil di pedesaan. Para tokoh cerita dalam novel Andrea Hirata dipanggil sebagai Laskar Pelangi, sedangkan para tokoh cerita dalam novel A. Fuadi dipanggil sebagai Sahibul Menara.
Laskar Pelangi adalah sebutan bagi 10 siswa dari keluarga miskin yang bertahan di SD (sampai SMP) Muhammadiyah di desa terpencil di Bangka. Saat berekreasi, mereka melihat pelangi, dan guru mereka, Bu Muslimah, pun memanggil mereka sebagai Laskar Pelangi. Sementara Sahibul Menara adalah sebutan bagi enam santri Pondok Madani yang suka berkumpul di taman di kaki menara masjid Pondok Madani untuk berdiskusi tentang banyak hal sambil menunggu azan Maghrib.
Baik Laskar Pelangi maupun Negeri 5 Menara sama-sama berbicara tentang tradisi dan semangat belajar, cita-cita dan impian tentang masa depan.
Kedua novel tersebut sama-sama terinspirasi dari kisah nyata pengarangnya. Bedanya, latar cerita Laskar Pelangi adalah sebuah sekolah Muhammadiyah di daerah terpencil yang nyaris dibubarkan karena kekurangan murid, sedangkan Negeri 5 Menara adalah sebuah pesantren (juga di daerah terpencil) yang ajaib karena santrinya mencapai ribuan dan penegakan disiplin serta sistem pendidikannya yang begitu luar biasa.
Penuh hikmah
Sebagai novel pendidikan, kisah Sahibul Menara dalam novel Negeri 5 Menara, yang terpusat pada kisah tokoh utamanya, Alif Fikri, ini adalah kisah yang sangat inspiratif dan penuh hikmah. Cukup pas komentar pendek Andy F. Noya pada sampul buku, "Novel inspiratif dengan selingan humor khas pondok. Jarang ada novel yang bercerita tentang apa yang terjadi di balik sebuah pondok yang penuh teka-teki. Buku ini sarat dengan vitamin bagi jiwa kita."
Dibuka dengan cerita saat Alif Fikri berada di Washington DC sebagai wartawan sukses yang akan berangkat ke London untuk mewawancarai Tony Blair, kisah kemudian meloncat mundur jauh ke belakang, saat Alif masih menjadi siswa madrasah tsanawiyah (setingkat SMP) di Agam, Sumatera Barat. Alif sangat bermimpi untuk dapat melanjutkan ke SMA terbaik di Bukittinggi. Tapi, orang tuanya sangat menginginkan dia masuk ke sekolah agama. Berkat informasi dari Pak Etek Gindo, akhirnya Alif memilih masuk Pondok Madani, tempat pertama kali Alif Fikri berkenalan dengan dunia jurnalistik dan kewartawanan.
Dari sinilah, A. Fuadi lantas bercerita panjang lebar tentang perantauan Alif dalam mencari ilmu, yang sebagian besar mengisahkan Alif dan kawan-kawannya dari berbagai daerah selama menuntut ilmu di Pondok Madani, serta pengalaman Alif menjadi wartawan Harian Kilas 70--- sebuah majalah dinding Pondok Madani yang terbit tiap hari. Alif dan kawan-kawannya (Sahibul Menara) tumbuh di tengah ketatnya penegakan disiplin dan dorongan semangat untuk maju, dengan prinsip man jadda wa jadda. Mereka harus belajar sejak bangun dini hari (04.30) sampai menjelang tengah malam (22.00). Mereka tidak boleh terlambat sedikit pun dalam mengikuti semua kegiatan pondok yang telah dijadwal secara ketat. Mereka hidup dalam pengawasan petugas keamanan pondok (Kismul Amni) yang siap mencatat dan menghukum tiap santri yang melanggar peraturan pondok tanpa pandang bulu.
Pada bagian yang mendominasi hampir seluruh bagian novel ini A. Fuadi merefleksikan pengalamannya saat belajar di Pondok Modern Gontor. Sepertinya, hampir semua bagian novel ini memang merupakan catatan pengalaman hidup A. Fuadi. Dia masuk Pondok Modern Gontor atas permintaan ibunya. Di pondok ini dia menjalani jadwal belajar yang ketat, dan di pondok ini pula dia bertemu dengan kiai dan ustad yang diberkahi keikhlasan dalam mengajarkan ilmu hidup dan ilmu akhirat. Gontor pula yang membukakan hatinya kepada rumus sederhana tapi kuat, man jadda wa jadda. Pengalaman menarik yang penuh hikmah itulah yang dikemasnya menjadi sebuah novel setebal lebih dari 400 halaman.
Hal yang juga menarik dalam novel ini adalah kepiawaian A. Fuadi dalam menceritakan hal-hal yang sebenarnya biasa, seperti hukuman bagi santri yang melanggar disiplin, menjadi dramatis sekaligus jenaka. Misalnya, ketika Alif Fikri dan kawan-kawan sekamarnya kepergok terlambat ke masjid. Mereka disergap oleh petugas keamanan pondok di tengah lapangan. Karena sosok sang petugas mirip Mike Tyson, Fuadi pun menyebutnya sebagai "sergapan pertama Tyson". Begitu juga kerja keras para kru Harian Kilas 70, yang intinya hanya menggambarkan kesibukan para santri dalam menyiapkan majalah dinding harian tersebut, bisa dikisahkan secara menarik, sekaligus mengandung makna man jadda wa jadda. Misalnya, saat Alif yang bertubuh kecil harus berebut dengan para wartawan professional untuk mewawancarai Panglima ABRI yang sedang berkunjung ke Pondok Madani, dan bersama timnya ia harus menyiapkan edisi terbaru Kilas 70 hanya dalam waktu beberapa jam agar dapat diberikan kepada sang panglima.
Selain itu, novel ini juga kaya muatan tradisi lokal, baik tradisi pengajaran di Pondok Pesantren maupun tradisi lokal masyarakat Agam (Minang) di Sumatera Barat. Bahkan, perjalanan darat Alif Fikri dan ayahnya dari Sumatera Barat ke Gontor (Jawa Timur) pun ia sebut sebagai semacam perjalanan budaya, karena di sepanjang perjalanan mereka menyaksikan berbagai ekspresi budaya masyarakat daerah-daerah dan kota-kota yang dilaluinya.
Karena itu, kita patut menyambut gembira kehadiran novel pendidikan ini. Apalagi, jika ternyata juga laris di pasar buku novel Indonesia . Kehadiran novel-novel semacam itu dapat menjadi penyeimbang, atau bacaan alternatif, di tengah maraknya novel-novel sekuler yang rata-rata juga laris.
Larisnya novel-novel semacam itu, dan semoga juga Negeri 5 Menara, mengindikasikan bahwa masyarakat juga membutuhkan dan menyukai bacaan-bacaan (fiksi) yang mencerahkan. Ini juga merupakan indikasi bahwa masyarakat tidak hanya memerlukan bacaan yang menghibur, tapi juga mengandung hikmah atau semacam vitamin kehidupan yang membuat mereka dapat terdorong untuk bersikap lebih positif dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan dan godaan duniawi.
Judul: Outliers: Di Balik Rahasia Sukses
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-4476-2
Tebal: 309 halaman
Apa persamaan The Beatles dan Mozart ? Mengapa dua jenius besar bisa memiliki nasib yang bertolak belakang: Robert Oppenheimer berhasil menembus Harvard dan Cambridge lalu menjadi fisikawan terkemuka di Amerika sedangkan Chris Langan hanya lulus SMA dan kini menjalani hidup sebagai petani? Mengapa sebagian besar pemain hockey kawakan di Kanada lahir di bulan Januari? Mengapa perintis perusahaan komputer besar di Amerika hampir semuanya lahir di tahun 1955? Mengapa tingkat kecelakaan pesawat terbang Korean Airlines memiliki kaitan dengan analisis kultural dan linguistik ?
Pertanyaan-pertanyaan di atas nampaknya tak berkaitan satu dengan yang lain namun jika kita membaca buku ini, kita akan tahu bahwa sesungguhnya ada seutas benang merah yang menjadikan mereka satu:Bagaimana kesuksesan bisa diraih.
*
Sebagian orang menganggap bahwa kesuksesan diraih karena nilai-nilai instrinsik: kerja keras dan kepandaian. Dalam buku ini, Malcolm Gladwell menyanggahnya dan memaknai kesuksesan sebagai kombinasi dari berbagai faktor. Keberhasilan adalah akhir dari kepandaian, kemauan keras untuk memanfaatkan kesempatan yang ada, keberuntungan, peristiwa dalam sejarah dunia dan momen-momen tertentu di kehidupan pribadi yang semuanya dialami oleh orang yang tepat dan berlangsung di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat.
Sesungguhnya Gladwell, mantan jurnalis The Washington Post yang menelurkan dua buku bestseller sejak kepindahannya ke majalah New Yorker, sedang menyampaikan gagasan-gagasan lama. Di sepanjang tulisan, ia tak menyebut secara eksplisit nama dari sosok nyata yang tak sependapat dengannya. Ia cenderung melakukan monolog, yaitu berdebat dengan 'we'. Saya rasa hal ini terjadi kemungkinan besar karena memang tak ada orang yang membantah gagasan klasik tentang makna kesuksesan di buku berdesain minimalis ini.
Bagaimanapun, Gladwell menyuguhkan ide-idenya dengan renyah sehingga mudah dipahami. Seperti halnya Tipping Point dan Blink, dua karya yang membuatnya dijuluki pop sociologist oleh beberapa media, 'Outliers' tampil dengan bahasa yang ringan dan menghadirkan banyak studi kasus yang jarang bisa diakses melalui harian atau majalah. Banyak nama besar dan fenomena menarik bermunculan sebagai contoh.
Simak saja, Gladwell menyoroti kecenderungan bangsa Yahudi di Amerika untuk menjadi pengacara atau dokter serta kemampuan matematis orang Asia yang jauh lebih baik dibandingkan rekan-rekan mereka di Barat. Ia lantas bertanya, mengapa itu semua terjadi ? Sangat mungkin ini juga pertanyaan jutaan orang lainnya yang kerap dilontarkan dalam obrolan ringan di kafe atau dibahas iseng-iseng di milis. 'Outliers' berusaha menjawab dan para penggila baca di Amerika pun langsung menjadikan buku ini bahan perbincangan sejak penerbitan perdananya November tahun lalu.
*
Outliers mengacu pada situasi atau sosok yang secara signifikan berbeda dengan yang lain. The Beatles adalah outlier dalam sejarah musik dunia yang telah menghasilkan puluhan band terkenal. Bill Gates adalah outlier di antara ratusan ahli komputer yang sekarang bisa dengan mudah kita jumpai di era high-tech ini. Tingkat kecelakaan yang dialami Korean Air di masa lampau juga termasuk tinggi dan karenanya dianggap outlier mengingat pesawat mengalami naas saat pilot sedang dalam kondisi prima dan pesawat terbilang layak terbang. Lantas apa yang menyebabkan mereka menjadi outliers?
Mari kita intip daftar 75 orang terkaya sepanjang sejarah, dari mulai tokoh Mesir Kuno yaitu Cleopatra dan Firaun hingga nama dari zaman modern seperti Bill Gates dan Sutan Hassanal Bolkiah. Jika daftar itu dicermati, kita akan menemukan sebuah fakta unik berupa 14 orang Amerika yang lahir antara 1831-1839. Bayangkanlah jumlah generasi yang terentang dari mulai Firaun hingga Bill Gates dan jumlah negara yang pernah ada di muka bumi. Lihatlah bahwa 20% dari daftar di atas ternyata berasal dari sebuah generasi di sebuah negara !
Gladwell yakin ini terjadi karena tahun 1860 dan 1870an Amerika sedang menuju masa keemasan:Ketika itulah Wallstreet lahir, pabrik didirikan dan jalur kereta mulai dibangun. Mereka yang lahir di sekitar 1850an kehilangan momen untuk berpartisipasi karena terlalu muda sedangkan mereka yang lahir tahun 1820an sudah terlalu tua dan kerangka berpikirnya tak bisa lagi mengikuti perkembangan zaman. Di antara dua pihak ini terbentanglah 9 tahun periode yang memberi bayi-bayi kesempatan emas untuk kelak berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi saat dewasa.
Contoh kasus di atas menunjukkan kita keyakinan Gladwell bahwa faktor ekstrinsik amat berperan dalam kesuksesan seseorang:peristiwa tertentu dalam sejarah dunia, misalnya. Nampak sekali bahwa ia bahkan percaya bahwa elemen ekstrinsik ini kerap lebih menentukan daripada instrinsik. Pembahasan macam ini tak hanya muncul sekilas namun mewarnai isi buku secara kental. Tak heran jika lantas terpancar kuat dari isi buku bahwa dalam sebuah kesuksesan, peran kerja keras urutannya hanyalah nomor dua setelah keberuntungan.
Tentu saja hal ini amat mungkin untuk diperdebatkan. Ambillah Victor Frankl sebagai contoh, misalnya. Psikiater ini mengalami siksaan di bawah rezin Nazi namun bisa bertahan hidup hingga umur 90. Pada kasus Frankl, yang berhasil menulis lebih dari 20 buku setelah mengalami tahun-tahun penuh aniaya, kesuksesannya jauh lebih ditentukan oleh nilai-nilai intrinsik dan bukan ekstrinsik, yaitu kerinduan untuk berjumpa istri dan keinginan untuk memperoleh makna hidup dengan cara berkarya
Banyak pembaca juga melayangkan pikiran kea arah surat-surat Ibu Theresa dari Kalkuta. Kumpulan surat ini pernah menjadi laporan utama di majalah terkemuka terbitan negara tempat Gladwell berdomisili, TIMES, dan dibukukan ke dalam berbagai bahasa. Pergulatan batin perempuan Albania ini jelas menunjukkan bahwa upaya karitasnya bisa berkembang, bukan hanya bertahan, sebagian besar karena nilai-nilai intrinsik seperti ketabahan serta kepasrahan.
Bagaimanapun, saat buku sudah terbit, pengarang pun mati. Sebagai pembaca kita memiliki kebebasan penuh untuk memaknai kesuksesan. Kita bisa melahap buku ini mentah-entah atau terpana pada rasanya yang gurih dan, pada saat yang sama, menjadi pembaca yang memiliki sikap kritis.
*Penulis adalah Guru Pelita Harapan Lippo-Cikarang, Penulis buku Keberanian Bernama Munir: Mengenal Sisi-sisi Personal Munir
Judul: Outliers: Di Balik Rahasia Sukses
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-4476-2
Tebal: 309 halaman
Apa persamaan The Beatles dan Mozart ? Mengapa dua jenius besar bisa memiliki nasib yang bertolak belakang: Robert Oppenheimer berhasil menembus Harvard dan Cambridge lalu menjadi fisikawan terkemuka di Amerika sedangkan Chris Langan hanya lulus SMA dan kini menjalani hidup sebagai petani? Mengapa sebagian besar pemain hockey kawakan di Kanada lahir di bulan Januari? Mengapa perintis perusahaan komputer besar di Amerika hampir semuanya lahir di tahun 1955? Mengapa tingkat kecelakaan pesawat terbang Korean Airlines memiliki kaitan dengan analisis kultural dan linguistik ?
Pertanyaan-pertanyaan di atas nampaknya tak berkaitan satu dengan yang lain namun jika kita membaca buku ini, kita akan tahu bahwa sesungguhnya ada seutas benang merah yang menjadikan mereka satu:Bagaimana kesuksesan bisa diraih.
*
Sebagian orang menganggap bahwa kesuksesan diraih karena nilai-nilai instrinsik: kerja keras dan kepandaian. Dalam buku ini, Malcolm Gladwell menyanggahnya dan memaknai kesuksesan sebagai kombinasi dari berbagai faktor. Keberhasilan adalah akhir dari kepandaian, kemauan keras untuk memanfaatkan kesempatan yang ada, keberuntungan, peristiwa dalam sejarah dunia dan momen-momen tertentu di kehidupan pribadi yang semuanya dialami oleh orang yang tepat dan berlangsung di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat.
Sesungguhnya Gladwell, mantan jurnalis The Washington Post yang menelurkan dua buku bestseller sejak kepindahannya ke majalah New Yorker, sedang menyampaikan gagasan-gagasan lama. Di sepanjang tulisan, ia tak menyebut secara eksplisit nama dari sosok nyata yang tak sependapat dengannya. Ia cenderung melakukan monolog, yaitu berdebat dengan 'we'. Saya rasa hal ini terjadi kemungkinan besar karena memang tak ada orang yang membantah gagasan klasik tentang makna kesuksesan di buku berdesain minimalis ini.
Bagaimanapun, Gladwell menyuguhkan ide-idenya dengan renyah sehingga mudah dipahami. Seperti halnya Tipping Point dan Blink, dua karya yang membuatnya dijuluki pop sociologist oleh beberapa media, 'Outliers' tampil dengan bahasa yang ringan dan menghadirkan banyak studi kasus yang jarang bisa diakses melalui harian atau majalah. Banyak nama besar dan fenomena menarik bermunculan sebagai contoh.
Simak saja, Gladwell menyoroti kecenderungan bangsa Yahudi di Amerika untuk menjadi pengacara atau dokter serta kemampuan matematis orang Asia yang jauh lebih baik dibandingkan rekan-rekan mereka di Barat. Ia lantas bertanya, mengapa itu semua terjadi ? Sangat mungkin ini juga pertanyaan jutaan orang lainnya yang kerap dilontarkan dalam obrolan ringan di kafe atau dibahas iseng-iseng di milis. 'Outliers' berusaha menjawab dan para penggila baca di Amerika pun langsung menjadikan buku ini bahan perbincangan sejak penerbitan perdananya November tahun lalu.
*
Outliers mengacu pada situasi atau sosok yang secara signifikan berbeda dengan yang lain. The Beatles adalah outlier dalam sejarah musik dunia yang telah menghasilkan puluhan band terkenal. Bill Gates adalah outlier di antara ratusan ahli komputer yang sekarang bisa dengan mudah kita jumpai di era high-tech ini. Tingkat kecelakaan yang dialami Korean Air di masa lampau juga termasuk tinggi dan karenanya dianggap outlier mengingat pesawat mengalami naas saat pilot sedang dalam kondisi prima dan pesawat terbilang layak terbang. Lantas apa yang menyebabkan mereka menjadi outliers?
Mari kita intip daftar 75 orang terkaya sepanjang sejarah, dari mulai tokoh Mesir Kuno yaitu Cleopatra dan Firaun hingga nama dari zaman modern seperti Bill Gates dan Sutan Hassanal Bolkiah. Jika daftar itu dicermati, kita akan menemukan sebuah fakta unik berupa 14 orang Amerika yang lahir antara 1831-1839. Bayangkanlah jumlah generasi yang terentang dari mulai Firaun hingga Bill Gates dan jumlah negara yang pernah ada di muka bumi. Lihatlah bahwa 20% dari daftar di atas ternyata berasal dari sebuah generasi di sebuah negara !
Gladwell yakin ini terjadi karena tahun 1860 dan 1870an Amerika sedang menuju masa keemasan:Ketika itulah Wallstreet lahir, pabrik didirikan dan jalur kereta mulai dibangun. Mereka yang lahir di sekitar 1850an kehilangan momen untuk berpartisipasi karena terlalu muda sedangkan mereka yang lahir tahun 1820an sudah terlalu tua dan kerangka berpikirnya tak bisa lagi mengikuti perkembangan zaman. Di antara dua pihak ini terbentanglah 9 tahun periode yang memberi bayi-bayi kesempatan emas untuk kelak berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi saat dewasa.
Contoh kasus di atas menunjukkan kita keyakinan Gladwell bahwa faktor ekstrinsik amat berperan dalam kesuksesan seseorang:peristiwa tertentu dalam sejarah dunia, misalnya. Nampak sekali bahwa ia bahkan percaya bahwa elemen ekstrinsik ini kerap lebih menentukan daripada instrinsik. Pembahasan macam ini tak hanya muncul sekilas namun mewarnai isi buku secara kental. Tak heran jika lantas terpancar kuat dari isi buku bahwa dalam sebuah kesuksesan, peran kerja keras urutannya hanyalah nomor dua setelah keberuntungan.
Tentu saja hal ini amat mungkin untuk diperdebatkan. Ambillah Victor Frankl sebagai contoh, misalnya. Psikiater ini mengalami siksaan di bawah rezin Nazi namun bisa bertahan hidup hingga umur 90. Pada kasus Frankl, yang berhasil menulis lebih dari 20 buku setelah mengalami tahun-tahun penuh aniaya, kesuksesannya jauh lebih ditentukan oleh nilai-nilai intrinsik dan bukan ekstrinsik, yaitu kerinduan untuk berjumpa istri dan keinginan untuk memperoleh makna hidup dengan cara berkarya
Banyak pembaca juga melayangkan pikiran kea arah surat-surat Ibu Theresa dari Kalkuta. Kumpulan surat ini pernah menjadi laporan utama di majalah terkemuka terbitan negara tempat Gladwell berdomisili, TIMES, dan dibukukan ke dalam berbagai bahasa. Pergulatan batin perempuan Albania ini jelas menunjukkan bahwa upaya karitasnya bisa berkembang, bukan hanya bertahan, sebagian besar karena nilai-nilai intrinsik seperti ketabahan serta kepasrahan.
Bagaimanapun, saat buku sudah terbit, pengarang pun mati. Sebagai pembaca kita memiliki kebebasan penuh untuk memaknai kesuksesan. Kita bisa melahap buku ini mentah-entah atau terpana pada rasanya yang gurih dan, pada saat yang sama, menjadi pembaca yang memiliki sikap kritis.
*Penulis adalah Guru Pelita Harapan Lippo-Cikarang, Penulis buku Keberanian Bernama Munir: Mengenal Sisi-sisi Personal Munir
Judul: Putri Cina
Penulis: Sindhunata
SASTRA adalah cermin dan wujud semi-wadag kebudayaan. Ia lahir dari sastrawan yang gelisah atas kondisi masyarakat yang menjadi konteks hidupnya. Ia merefleksikan kondisi itu dan menggambarkannya. Dan tidak hanya menggambarkan, tapi juga memberi alternatif arah yang lebih bermakna, walau sang sastrawan barangkali tidak berpretensi ingin mengajar-ajari pembacanya. Karena itu, sastra yang memang bermutu tak pelak merupakan potret sosial, yang sekaligus berisi perenungan dan penyadaran yang memunculkan dalam diri pembacanya mutiara kebijaksanaan untuk melampaui kondisinya yang mengungkung dan membatasi. Itulah yang disodorkan kepada kita oleh Sindhunata, antara lain lewat novelnya, Putri Cina.
Mungkin karena sang novelis juga pastor, ia akrab dengan tema "dari debu kembali ke debu" untuk menggambarkan begitu terbatas dan sementaranya eksistensi ragawi yang sering dikutip pendeta ketika melepas orang mati. Hanya saja, kali ini Sindhunata tidak sedang mengutip kitab suci, tapi sajak klasik T'ao Ch'ien, untuk membingkai narasi. Eksistensi dan identitas ragawi itulah yang menjadi sumber kegelisahan Putri Cina, karena "ia tidak punya akar/diterbangkan ke mana-mana/seperti debu berhamburan".
Roh Kebebasan terpaksa berdimensi ragawi. Keterpaksaan itulah yang menjadi sumber kegelisahan dan kekecewaannya, sehingga ia bertanya tanpa jawab, "Kita datang ke dunia ini sebagai saudara, tapi mengapa kita mesti diikat pada daging dan darah?" Roh Kebebasan terpaksa menyandang daging dan darah yang mewujudnyatakannya secara wadag dan memberinya identitas cuma sedalam kulit, sekaligus membatasi, dengan segala stigmanya.
Putri Cina hanya representasi kaumnya. Merasa gamang tanpa akar, terpaksa menerima fakta menyandang identitas kultural dan ragawi tertentu, terserak di tempat yang terasa salah, dan dikambing-hitamkan. Itulah konteks hidup dan pergulatannya. Kalau Viktor Frankl gundah dengan man's search for meaning, pencarian manusia akan makna, Putri Cina gundah dengan pencarian akan identitas. Dalam pergulatan mencari identitas itu ia merasa seperti debu yang terbang dibawa angin, terserak di luar kuasanya, karena ternyata identitas itu menjadi permainan politik diskriminasi yang kejam. Sejak bab pertama kita sudah diharu biru oleh kepedihan Putri Cina yang "kehilangan wajah", dan hanya menemukan wajah mawar hitam, yang bagi Sindhu adalah bunga kematian. Kelopak-kelopaknya ringkih, mudah lepas dan terbang oleh tiupan. Warna kematian tersandang padanya.
Lewat novelnya Sindhu menggeluti dan dengan indah memaparkan tragika. Mitos dan data sejarah hanya sarana baginya. Ia ramu keduanya menjadi sajian kisah sedih yang memikat. Barangkali itu juga pengalaman pribadinya. Dengan kulit gelap, bahasa Jawa medhok, dan kesukaannya pada wayang purwa, siapa sangka dirinya adalah Cina? Konon ia pernah dirundung krisis identitas, dan menyangkal kecinaannya. Konon pula ia mengalami semacam pembalikan sikap pada saat belajar di Jerman dan mulai tertarik pada novel-novel bertema pencarian tanah leluhur, simbolik kerinduan pada akar-akar terdalam, karya pengarang imigran Yahudi. Mungkin pergulatan kaum pelarian Yahudi itu sedikit banyak mewakili pergulatan diri dan kaumnya. Sembunyi dari kejaran Nazi, pelarian Yahudi itu sampai akhir hanyat menyembunyikan identitas kultural mereka dan dengan demikian mencabut sendiri akar-akar terdalam yang memberi mereka kehidupan yang bermakna.
Kendati demikian, terlalu dangkal anggapan kita bila mengatakan Putri Cina hanya berkisah tentang tragika. Ada harapan yang membentangkan panggung baru bagi sebuah kerbersamaan yang bermakna. Dasarnya adalah cinta, suatu kekuatan dahsyat yang sepintas tampak lemah, tetapi nyatanya justru menghidupkan dan menghidup-hidupi. Dalam cinta, Giok Tien menemukan identitas makna keberadaannya. Dalam cinta pula Gurdo Paksi menemukan identitas sejatinya sebagai Setyoko. Dalam cinta itu luluh segala perbedaan. Bahkan hanya dalam cinta itu harta, kegagahan, keperkasaan dan kuasa memiliki makna. Tanpa cinta, semuanya itu bagai keris Kyai Pesat Nyawa. Keris yang selama ini menjadi andalan kedigdayaan Joyo Sumengah itu justru membawa ke kehancurannya.
Cinta pula yang membuat raga-raga mati bangkit dari kubur. Sebagai Roh Kebebasan mereka yang dikerangkai oleh raga mati itu terbang sebagai kupu-kupu bebas. Kupu-kupu itu bukan kupu-kupu dengan beban perbedaan yang memisahkan, tapi kupu-kupu kesamaan cinta yang mempersatukan. Karena tersentuh oleh cinta dan kasih sayang, menurut sang sastrawan, kematian pun menjadi telaga kehidupan yang amat indah, sehingga dari kematian itu justru turun hujan berkah dan kedamaian bagi dunia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar